Minggu, 19 Oktober 2008

PEMBIARAN



Seperti ketika Rasulullah SAW tertawa-tawa menyaksikan Aisyah dan Saudah saling bertengkar dan saling menimpuk wajah mereka dengan kue atau seperti ketika Ummu Salamah menjawab enteng pertanyaan Anas bin Malik tentang Rasulullah SAW yang selalu refleks mencium Aisyah tapi tidak begitu dengan beliau, kita semua belajar tentang sebuah fakta bahwa ternyata cinta memang punya mekanismenya sendiri dalam menyelesaikan masalah-masalahnya.

Pembiaran. Yah, pembiaran. Mereka dengan sengaja membiarkan sebagian masalah itu terjadi. Dan tidak memikirkannya. Apalagi menyelesaikannya. Karena tidak semua masalah memang harus dipikirkan. Karena tidak semua masalah memang harus diselesaikan. Karena memang ada banyak masalah yang selesai karena tidak dipikirkan dan tidak diselesaikan. Persis seperti ketika kita membiarkan seorang bocah menangis dan tidak menghiraukannya, ia akan berhenti dengan sendirinya. Sebab memang ada ”ruang pelepasan jiwa” yang mengharuskan kita “tega” menyaksikannya untuk lepas bebas, sembari menanti dengan cukup “yakin” bahwa ia akan kembali tenang dengan sendirinya. Bahkan misalnya ketika Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa menangis itu bagus untuk kesehatan jantung anak-anak, sebenarnya menangis juga bagus untuk perempuan, khususnya untuk kehalusan kulit mereka.

Jadi mekanisme pembiaran menuntut adanya keyakinan dan sedikit ketegaan.
Pada tamsil yang lain kita bisa belajar dari mekanisme kerja tubuh yang sehat. Badan sehat menyembuhkan penyakitnya sendiri, khususnya penyakit-penyakit kecil. Selain memiliki imunitas sebagai sistem perlindungan tubuh, badan sehat juga menyelesaikan penyakit-penyakit kecil seperti flu, pilek dan demam melalui istirahat atau tidur yang cukup. Jadi tidak semua penyakit harus dibawa ke dokter. Walau itu tidak harus berarti bahwa bukan karena merasa sehat maka kita merasa tidak memerlukan dokter.

Begitu juga cinta, punya mekanisme pembiaran. Semacam toleransi bahwa masalah-masalah yang muncul ini bukan suatu bahaya yang mengancam hubungan jangka panjang. Tapi hanya riak-riak yang menghiasi keteduhan laut. Bahkan seringkali masalah-masalah itu justru menyimpan berkah terselubung. Misalnya cemburu. Seringkali keluar ia dibahasakan dengan tudingan dan tuntutan. Tapi sebenarnya kedalam ia membangun kesadaran introspeksi diri yang lebih baik. Kenapa bisa begitu ? Karena cemburu berbaur secara kimiawi dengan bahan dasar cinta, dicampur rasa malu, digabung egoisme. Yang keluar cinta juga akhirnya. Walaupun mungkin sudah “babak belur” dalam pembahasaan.

Jadi semua yang tumbuh dari bibit cinta pada akhirnya akan berbuah cinta juga. Ujian paling berat bagi pecinta sejati adalah pada keyakinannya terhadap kesejatian cintanya sendiri, dan keyakinannya pada kekuatan cinta untuk terus menerus melahirkan kebajikan-kebajikan. Pembiaran adalah tampak manajerial dari keyakinan itu.

Sabtu, 18 Oktober 2008

SYUKUR

Syukur adalah kata yang mudah untuk diucapkan tetapi terasa sulit untuk dipraktekkan. Perintah Syukur juga dinyatakan di dalam kitab Suci Al quran, yang intinya menyebutkan bahwa Allah akan memberikan lebih banyak kenikmatan jika manusia pandai bersyukur. Kebanyakan orang salah mendefinisikan apa itu syukur. Sebagian besar dari kita memaknai syukur dengan jalan mengucapkan terimakasih atas apa yang telah kita peroleh saat ini, dan itu masih dalam makna sempit. Syukur sesungguhnya adalah tidak sekedar berucap di bibir saja, tetapi juga masuk di level perasaan, yang merasakan bahwa apa yang ada di dalam diri kita, nafas, kedipan mata kita, indera kita, kesehatan, istri/suami, kecerdasan,anak, tempat tinggal, termasuk perasaan bahagia dan segala resources ygkita miliki semata-mata pemberian Allah dan berusaha menggunakan dan memaanfaatkan segala resources yang kita miliki itu demi kebahagiaan seluruh makhluk. Lalu bagaimana syukur bisa semakin mendatangkan kenikmatan-kenikmatan baru seperti dijanjikan Allah? Ada 2 tinjauan tentang syukur. Yang pertama dari sisi pemrograman pikiran. Defini syukur sebagaimana di atas membuat setting pikiran manusia (mind set) dalam keadaan positif. Dengan mensyukuri setiaplangkah kita dalam hidup ini dengan segala pencapaiannya, maka perasaan kita akan selalu bergetar dalam frekuensi yang positif. Perasaan yang selalu positif (Positif Feeling) akan membuat apa yang selalu kita pikirkan juga bergetar dalam frekuensi yang positif (Positif Thinking). Dengan demikian pikiran manusia yang terdiri dari pikiran sadar danpikiran bawah sadarnya akan saling bersinergi dan tercipta suatu keselarasan yang akibatnya adalah adanya saling mendukung di dalam 2 kepribadian manusia yang biasanya saling bertentangan atau melemahkan dalam mencapai suatu tujuan. Pernahkah anda mempunyai keinginan,misalnya ingin membuka usaha. Kemudian ada bagian dalam diri anda yang mensabotase seperti takut gagal, khawatir, jangan-jangan dan seterusnya. Sabotase dari bagian diri anda yang lain ini tidak akan sempat muncul jika kedua bagian dalam diri anda saling selaras dengan menerapkan syukur dalam hidup anda. Sehingga pikiran dan perasaan yang telah salingselaras ini akan menggerakan seluruh potensi diri anda untuk melakukan action dalam meraih tujuan hidup anda, istiqomah dan akhirnya tujuan itupasti tercapai. Tinjauan tentang syukur yang kedua adalah, ternyata berdasarkan hasil riset menyebutkan bahwa orang-orang yang selalu bersyukur memiliki tingkat energy pikiran (otak) yang sanagat besar frekuensinya jika diukur dengan alat pengukur kekuatan energy pikiran/otak. Dan ini jauh sangat berbeda bagi orang-orang yang pemarah misalnya dimana level energy pikirannya sangat rendah. Di dalam hukum LOA (Law of Attraction) ternyata energy syukur yang kuat tersebut mampumembroadcast atau mengirimkan keinginan dan harapan orang yang bersyukurtersebut ke seluruh alam semesta. Sehingga alam semesta pun akan merespon broadcast keinginan dan harapan tersebut dengana membalasnyalebih besar. Inilah yang pada akhirnya orang sering menyebutnya sebagai keberuntungan. Keberuntungan adalah hasil broadcast keinginan yangdirespon oleh alam semesta dalam kekuasaan Allah dalam bentuk mendekatkan apa yang diinginkan dan diharapkan, semakin mendekat dan tertarik oleh magnet orang yang pandai bersyukur. Akibatnya adalah kemudahan bagi orang tersebut untuk merealisasikan harapan dan tujuan-tujuan dalam hidupnya.